WR, Pekanbaru - Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel dengan iman, kecerdasan, dan keberanian menabrak kemapanan sejarah.
Pebriyan Winaldi memilih medan juang yang berbeda menantang oligarki perusahaan nakal di Riau dengan akal sehat, nyali, dan keberpihakan yang tegas pada rakyat.
Pebriyan tidak lahir dari silsilah kekuasaan. Ia bukan anak konglomerat, bukan pewaris kerajaan bisnis, dan bukan produk ruang-ruang elite. Ia lahir dari kampung kecil di Kampar, dari tikar sederhana, dari kehidupan yang sejak awal mengajarkannya arti lapar, kerja keras, dan harga diri. Dari sana, ia belajar satu hal penting: keadilan tidak pernah turun dari atas, ia harus direbut.
Ketika banyak anak muda bercita-cita menjadi pewaris mewarisi modal, jaringan, dan kekuasaan Pebriyan justru memilih jalan yang paling sepi dan paling berbahaya: menjadi pembebas. Pembebas dari kemiskinan struktural, dari ketimpangan ekonomi yang disengaja, dan dari sistem usaha rakus yang menjadikan masyarakat kecil sekadar korban statistik.
Sejak awal, ia terbiasa diremehkan. Disebut “anak kampung” yang dianggap tak paham peta besar bisnis Riau. Namanya diabaikan, langkahnya dipinggirkan, peluangnya ditutup rapat. Namun justru dari pengucilan itulah karakternya ditempa. Ia belajar dalam sunyi, bekerja tanpa sorotan, dan membangun kekuatan tanpa banyak bicara.
Pebriyan tidak sekadar membangun usaha ia membangun perlawanan. Ia menyaksikan langsung bagaimana kekayaan alam Riau dikuasai segelintir perusahaan nakal: bersekongkol dengan kekuasaan, merusak lingkungan, merampas hak masyarakat adat, dan menjadikan hukum sekadar alat tawar-menawar. Di titik itulah tekadnya mengeras: jika sistem ini busuk, maka harus ada yang berani mengoyaknya.
Jalannya penuh luka. Ia jatuh, dikhianati, ditekan, bahkan diancam. Namun satu hal tak pernah ia lakukan: tunduk pada oligarki. Pebriyan menolak menjadi bagian dari permainan lama yang kotor. Ia memilih transparansi, keberanian, dan keberpihakan pada keadilan pilihan yang membuatnya dibenci oleh mereka yang hidup dari kecurangan.
Perlahan tapi pasti, peta berubah. Usahanya tumbuh, jejaringnya meluas, dan pengaruhnya tak lagi bisa diabaikan. Mereka yang dulu meremehkan kini menyebut namanya dengan kewaspadaan. Pebriyan Winaldi menjelma menjadi raksasa senyap tak gemar tampil di panggung, namun langkahnya nyata dan menggetarkan. Ia berani membuka praktik busuk perusahaan nakal, menantang kartel, dan berdiri bersama rakyat yang selama ini hanya dijadikan angka dan alat.
Hari ini, Pebriyan bukan sekadar pengusaha muda. Ia adalah simbol perlawanan generasi baru Riau. Bukti bahwa perubahan tidak harus lahir dari emas, darah bangsawan, atau restu kekuasaan, tetapi bisa tumbuh dari kampung, dari tikar sederhana, dari keberanian untuk berkata: cukup sudah.
Seperti Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel dengan visi besar, Pebriyan Winaldi menantang oligarki dengan satu senjata yang paling ditakuti penguasa busuk: integritas dan keberanian tanpa kompromi.***MDn
#Elang 3 Hambalang #Pebriyan Winaldi #Oligarki #Pengusaha Nakal