DUMAI, RIAU – Wacana pembangunan Kota Dumai tak lagi cukup dibatasi oleh siklus lima tahunan. Kota pelabuhan strategis di pesisir Riau ini dinilai perlu memiliki arah filosofis jangka panjang yang kokoh, berani, dan visioner. Salah satu simbol gagasan besar itu adalah Menara Pandang Kota Dumai (MPKD)—sebuah landmark monumental yang digagas sebagai penanda arah masa depan kota.
Gagasan tersebut disampaikan Founder Duri Institute, Agung Marsudi, usai menjadi narasumber dalam Seminar Interaktif Anti Korupsi di Grand Zuri Dumai, Rabu (21/1/2026).
Menurut Agung, sudah saatnya masyarakat Dumai melakukan redefinisi terhadap jati diri kotanya. “Pertanyaan mendasarnya sederhana tapi mendalam: Dumai ini sesungguhnya menghadap ke mana? Laut, industri, perdagangan, atau peradaban?” ujarnya.
Ia menegaskan, pembangunan kota idealnya memiliki cetak biru filosofis yang melampaui kepentingan politik jangka pendek. “Simbolnya adalah Menara Pandang Kota Dumai. Sebuah landmark yang bukan sekadar bangunan, tapi penanda arah pembangunan jangka panjang,” tegas Agung.
Agung bahkan membandingkan gagasan tersebut dengan ikon nasional. “Jika Jakarta memiliki Monas, maka Dumai harus punya Menara Pandang. Tingginya bisa 100 meter. Soal nama, serahkan sepenuhnya kepada kearifan lokal masyarakat Dumai. Desain dan rencana konstruksi pun sebaiknya disayembarakan secara terbuka agar melibatkan partisipasi publik,” ungkapnya.
Lebih jauh, Agung menjelaskan filosofi menara pandang tersebut menyerupai mercusuar—sangat relevan dengan identitas Dumai sebagai kota pelabuhan. Ia mencontohkan Menara Pandang Teratai di Purwokerto, Jawa Tengah, yang sukses menjadi ikon kota, destinasi wisata, sekaligus sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Menara Pandang Dumai bisa menjadi fasilitas publik yang monumental, destinasi wisata baru, dan sumber ekonomi baru bagi daerah,” ujarnya.
Agung pun mengajak seluruh elemen masyarakat Dumai untuk bersatu mengawal gagasan besar ini. “Saatnya membentuk tim penggagas dan tim strategis secara inklusif. Duduk bersama, membedah gagasan ini, dan bersinergi mewujudkan rencana yang membanggakan,” katanya.
Dukungan terhadap gagasan tersebut datang dari Ketua Harian Komite Melayu Bersatu Dumai (KMBD), Chandra Abdul Ghani. Ia menilai Dumai memang membutuhkan bangunan bergengsi yang mampu merepresentasikan identitas dan arah pembangunan kota.
“Dumai perlu monumen yang menjadi simbol penentu arah pembangunan. Menara Pandang itu bisa menjadi ikon kebanggaan sekaligus penegas posisi Dumai di masa depan,” jelasnya.
Tokoh muda yang akrab disapa Bang Ican ini menggambarkan potensi besar jika menara pandang tersebut terwujud. “Dari ketinggian, masyarakat bisa memandang laut lepas, melihat dinamika industri Dumai, hingga menyaksikan Tol Permai sebagai gerbang masuk investasi. Itu bukan sekadar pemandangan, tapi refleksi kemajuan kota,” ujarnya.
Ia pun menekankan perlunya keberanian Pemerintah Kota Dumai untuk mengubah paradigma tata kelola pemerintahan. “Pemerintah harus berani membuka ruang partisipasi publik seluas-luasnya. Pembangunan kota tidak boleh elitis, tapi harus lahir dari keterlibatan masyarakat,” tutupnya.***MDn
#Kota Dumai #Wacana Menara Kota Dumai