PEKANBARU — Ruang sidang berubah jadi medan perang. Tak ada lagi formalitas hukum yang kaku yang tersisa hanya benturan keras antara tuduhan dan perlawanan. Abdul Wahid tidak datang untuk membela diri. Ia datang untuk menyerang balik. Dengan suara lantang, ia menghantam dakwaan:
“Fitnah! Dramatisasi! Tidak cermat!”
Tak ada kompromi. Tak ada bahasa aman. Ini perlawanan total terbuka, frontal, dan berisiko tinggi.
KEBIJAKAN DIKRIMINALISASI? SIAPA SUTRADARA DI BALIK LAYAR
Wahid menegaskan, pergeseran anggaran adalah prosedur resmi dibahas dalam TAPD dan mengikuti arahan pemerintah pusat.
Namun di ruang sidang, realitas itu berubah bentuk. Kebijakan administratif disulap menjadi dugaan kejahatan.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal hukum semata, tapi: siapa yang sedang mengarahkan skenario ini?
KARAKTER DIHANCURKAN, NARASI DIKUNCI
Isu pengumpulan HP. Ucapan kontroversial: “matahari hanya satu.”
Semua dirangkai rapi menjadi satu narasi: Wahid digambarkan arogan, otoriter, dan menekan bawahan. Namun Wahid menolak tunduk pada framing itu. “Rekayasa!” jawabnya singkat, tapi tajam.
Di titik ini, publik mulai melihat: yang sedang diadili bukan hanya tindakan, tapi reputasi.
SERANGAN DARI DALAM? NAMA MULAI DIUNGKAP
Sidang mencapai titik panas ketika Wahid mengisyaratkan adanya aktor internal dengan niat jahat (mens rea).
Pesannya Jelas ini bukan serangan dari luar ini sabotase dari dalam.
Dan ketika nama mulai disebut, satu hal tak bisa dibantah: topeng mulai retak.
PENGADILAN ATAU EKSEKUSI POLITIK?
Publik kini berada di persimpangan.
Apakah ini murni penegakan hukum?
Atau justru eksekusi politik yang dibungkus prosedur legal?
Karena jika kebijakan bisa ditarik ke ranah pidana, maka tidak ada lagi yang benar-benar aman.
PERTARUNGAN INI BARU DIMULAI
Di akhir sidang, Wahid menutup dengan kalimat sederhana:
“Kebenaran akan menemukan jalannya.”
Namun realitas berkata lain. Kebenaran hari ini tidak berjalan ia diseret, ditekan, bahkan nyaris dikubur.
Dan yang kita saksikan bukan sekadar proses hukum. Ini adalah pertarungan kekuasaan tanpa topeng, tanpa malu.***MDn
#gubernur riau #Abdul Wahid #OTT Riau #Sidang Abdul Wahid