DURI — Kelangkaan seluruh jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali menghantam Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Kondisi ini memicu antrean panjang kendaraan roda dua maupun roda empat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), salah satunya di kawasan Hangtuah. Warga terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan pasokan BBM demi menunjang aktivitas sehari-hari.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mengular sejak pagi hingga malam hari. Puluhan sepeda motor tampak memadati area pengisian, sementara mobil pribadi hingga kendaraan angkutan ikut terjebak dalam antrean panjang yang nyaris tak bergerak. Petugas SPBU terlihat kewalahan melayani lonjakan masyarakat yang datang silih berganti.
Fenomena ini kembali memantik pertanyaan publik terhadap sistem distribusi energi di wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penopang industri migas nasional. Ironisnya, di tengah status Duri sebagai kawasan penghasil minyak, masyarakat justru berkali-kali menghadapi krisis BBM yang terus berulang tanpa solusi nyata.
HMI Duri Soroti Dugaan Masalah Distribusi
Bendahara Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat STAI Hubbulwathan Duri, Habib Brilliant A. Nugraha, menilai kelangkaan BBM tidak bisa lagi dianggap sekadar persoalan teknis distribusi biasa. Menurutnya, ada persoalan mendasar yang harus segera diungkap secara terbuka kepada publik.
“Kota Duri ini secara historis dikenal sebagai wilayah penghasil minyak yang menyokong kebutuhan energi nasional. Sangat ironis jika masyarakat di atas tanah yang kaya ini justru harus kesulitan, mengantre berjam-jam, bahkan kerap gigit jari karena kehabisan bahan bakar,” tegas Habib.
Ia menilai pemerintah daerah dan pihak terkait tidak boleh terus membiarkan masyarakat menjadi korban dari carut-marut distribusi energi yang terjadi hampir setiap waktu tertentu.
Desak Transparansi Kuota dan Pengawasan Ketat
HMI Komisariat STAI Hubbulwathan Duri mendesak pihak Pertamina serta Pemerintah Kabupaten Bengkalis segera melakukan evaluasi total terhadap rantai distribusi BBM di Kecamatan Mandau. Mereka meminta adanya keterbukaan mengenai kuota pasokan harian yang masuk ke wilayah Duri serta pengawasan ketat terhadap penyaluran BBM di tingkat SPBU.
Habib menegaskan, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa pengawasan serius, maka bukan hanya aktivitas masyarakat yang lumpuh, tetapi juga roda perekonomian daerah dapat terganggu.
“Distribusi BBM harus diawasi secara ketat. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan sementara ada dugaan permainan atau ketidaktepatan distribusi di lapangan. Pemerintah dan Pertamina harus hadir memberikan solusi konkret, bukan sekadar penjelasan normatif,” ujarnya.
Kelangkaan BBM di Duri kini menjadi sorotan publik. Warga berharap pemerintah tidak lagi sekadar melakukan tambal sulam kebijakan, melainkan menghadirkan langkah nyata agar krisis energi yang terus berulang ini tidak menjadi penderitaan berkepanjangan bagi masyarakat.***MDn
#Duri Krisis BBM #Benckalis