PEKANBARU — Komitmen jajaran Polda Riau dalam memberantas premanisme kembali menjadi sorotan publik menyusul viralnya perseteruan antara Iwan Pansa dan Suparman yang memicu perhatian luas di media sosial.
Insiden yang berlangsung di ruang publik itu memperlihatkan adanya ketegangan antara kedua kubu yang disebut melibatkan massa pendukung masing-masing pihak. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban di tengah upaya aparat menekan aksi premanisme di Riau.
Sorotan publik semakin tajam karena sebelumnya Polda Riau telah menggagas berbagai langkah strategis, termasuk pembentukan Tim RAGA (Rabu Anti Geng dan Anarkisme) yang digadang menjadi ujung tombak penindakan terhadap aksi kekerasan jalanan, geng, dan praktik-praktik yang meresahkan masyarakat.
Namun muncul pertanyaan di tengah masyarakat: sejauh mana efektivitas langkah tersebut dalam mencegah konflik terbuka yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan?
Sejumlah pengamat menilai peristiwa itu bukan sekadar konflik personal, melainkan cerminan masih kuatnya pengaruh kelompok tertentu di lapangan. Narasi yang berkembang di media sosial juga dinilai memperlihatkan adanya mobilisasi massa yang dapat memicu ketegangan lebih besar apabila tidak segera ditangani secara terukur.
“Ini bukan lagi sekadar perseteruan biasa. Jika dibiarkan, situasi seperti ini bisa berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih luas,” ujar seorang analis keamanan di Pekanbaru.
Nama Suparman sendiri selama ini kerap muncul dalam berbagai polemik di Riau terkait aktivitas pengamanan swasta dan sejumlah kontroversi lain. Sementara Iwan Pansa dikenal sebagai tokoh lokal yang memiliki basis pendukung cukup besar di Pekanbaru.
Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari aparat penegak hukum yang menyimpulkan adanya unsur pidana tertentu dalam insiden tersebut.
Publik pun menaruh harapan besar kepada Irjen Hengki Haryadi yang dikenal memiliki rekam jejak kuat dalam penindakan kriminalitas saat bertugas di Polda Metro Jaya. Kehadirannya diharapkan mampu memperkuat langkah Polda Riau dalam menindak segala bentuk aksi intimidasi, kekerasan, maupun praktik premanisme tanpa pandang bulu.
Sementara itu, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan sebelumnya telah menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi kelompok atau pihak mana pun yang menciptakan rasa takut di tengah masyarakat.
“Setiap warga berhak merasa aman. Negara tidak boleh kalah oleh siapa pun yang mencoba menciptakan ketakutan,” tegasnya saat peluncuran Tim RAGA.
Kini masyarakat menunggu langkah konkret aparat kepolisian dalam merespons polemik tersebut. Penanganan yang cepat, transparan, dan profesional dinilai penting untuk meredam eskalasi konflik sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.
Jika tidak ditangani secara tegas dan terukur, peristiwa serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan memperkuat persepsi bahwa keamanan ruang publik di Riau masih rentan terhadap konflik kelompok.***MDn
#Polda Riau #Suparman #Iwan Pansa #PP riau