15 Santri Dzahabi Babak Belur, Wali Murid Lapor ke Polres Kampar

15 Santri Dzahabi Babak Belur, Wali Murid Lapor ke Polres Kampar

KAMPAR — Kasus dugaan kekerasan terhadap santri kembali mencoreng dunia pendidikan keagamaan. Sebanyak 15 santri Pondok Pesantren Imam Dzahabi di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, dilaporkan menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh kakak senior.

Aksi kekerasan tersebut diungkap langsung oleh para wali murid yang menegaskan bahwa kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi. Menurut mereka, praktik kekerasan di lingkungan pesantren sudah berlangsung lama, baik yang diduga melibatkan oknum guru maupun senior, namun kerap ditutup-tutupi.

Puncaknya, 15 wali murid sepakat melaporkan kasus ini ke Polres Kampar setelah anak-anak mereka mengalami luka fisik hingga babak belur dan trauma.

“Kami tidak mempermasalahkan biaya sekolah yang mahal. Tapi jangan aniaya anak kami. Kami titipkan anak untuk dididik, bukan untuk disiksa,” tegas salah satu wali murid.

Para orang tua secara tegas menuntut agar pelaku kekerasan dikeluarkan dari sekolah dan diproses secara hukum tanpa kompromi. Mereka menolak segala bentuk penyelesaian damai yang berpotensi menghilangkan keadilan bagi korban.

Sebelumnya, para wali murid sempat mendatangi Polsek Tambang untuk membuat laporan, namun diarahkan ke Polres Kampar. Kini, mereka berharap aparat penegak hukum bertindak cepat dan transparan demi melindungi hak dan keselamatan anak-anak.

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan kekerasan di lembaga pendidikan berbasis agama dan menjadi peringatan keras bahwa kekerasan atas nama disiplin maupun senioritas tidak dapat ditoleransi dalam bentuk apa pun.***MDn

#kampar #Dzahabi Kampar #Ponpes Dzahabi