Menghirup Aroma "Keadilan" di Tengah Kabut Asap Pekanbaru

Menghirup Aroma

Oleh: Syafrudin Ismail 

Pagi di Pekanbaru memang selalu punya cara unik untuk menyapa paru-paru kita. Saat kemarau panjang tiba, udara bukan lagi soal oksigen, melainkan partikel asap yang dengan sopannya "silaturahmi" melewati bulu hidung. Namun, belakangan ini, warga Riau tampaknya harus terbiasa menghirup aroma lain yang tak kalah menyengat: bau amis dugaan kriminalisasi dalam persidangan kasus korupsi Dinas PUPR PKPP Provinsi Riau.

Sungguh sebuah kebetulan yang sangat estetik. Di saat publik sedang asyik menonton drama hukum, nama Abdul Wahid mendadak jadi pemeran utama yang dipaksa naik panggung.

Konsistensi yang Membosankan?

Mari kita tengok suasana ruang sidang. Tiga saksi—Aditya, Sarkawi, dan Taufik Oesman—duduk berjejer dengan batik sederhana. Tidak ada jam tangan seharga rumah, tidak ada pamer kemewahan ala mantan petinggi Riau yang dulu hobi merayakan ulang tahun anak secara kolosal hingga viral secara nasional.

Menariknya, ketiga saksi ini memberikan keterangan yang sangat konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Bagi para pemburu skandal, ini tentu membosankan. Tidak ada plot twist yang memojokkan Wahid di sana. Tapi tenang, jika di persidangan faktanya "adem ayem", kita selalu punya mesin lain yang lebih berisik: Media Massa.

Orkestrasi "TOA" Nasional

Begitu nama Abdul Wahid dicatut, media nasional tiba-tiba berubah menjadi pasukan "TOA" yang menyala otomatis. Tanpa dikomando—atau mungkin sudah dikomando?—berita menyebar serentak layaknya rudal di Timur Tengah. Isunya? Apalagi kalau bukan narasi jalan-jalan ke Inggris dan Brazil yang digoreng sedemikian rupa sejak awal November.

Hebatnya, narasi ini begitu mudah ditelan. Di kedai kopi hingga ruang tunggu, semua orang mendadak jadi ahli politik. Popularitas Wahid bahkan melampaui masa kampanyenya sebagai Gubernur. Bahkan, nama sekaliber Ustadz Abdul Somad (UAS) pun ikut "diseret" dalam panggung sandiwara ini. Bayangkan, seorang ulama berpengaruh di Asia dilabeli oleh media buzzer seolah-olah sedang mencari untung dari pertemanannya dengan Wahid. Sebuah komedi yang sangat tidak lucu, mengingat UAS justru dengan ksatria menyatakan siap memberikan kesaksian jika dibutuhkan. Sahabat sejati memang merepotkan bagi para pembuat skenario, bukan?

Investasi Rp492 Miliar yang "Terlupakan"

Puncak dari komedi satir ini adalah saat suara petir memecahkan kesunyian sidang: ternyata dalam dakwaan resmi, tidak ada satu kata pun yang menyinggung soal perjalanan Abdul Wahid ke Inggris.

Lalu, apa fungsi konferensi pers Lembaga Anti-Rasuah yang berbusa-busa menyebut Inggris tempo hari? Apakah ini bagian dari "Operasi Propaganda" untuk membunuh karakter seseorang?

Mari kita luruskan faktanya, meski bagi sebagian orang fakta itu pahit. Kepergian Wahid ke Inggris adalah untuk bicara soal komitmen Riau menjaga lahan gambut. Hasilnya pun tidak main-main: komitmen investasi sebesar USD 30 juta atau setara Rp492 miliar. Fantastis? Tentu saja. Tapi di negeri ini, membawa pulang prestasi seringkali lebih berbahaya daripada membawa pulang masalah.

Akhir Sebuah Skenario

Saat ini, Abdul Wahid tampaknya sedang "ditawan" oleh narasi-narasi negatif yang sengaja dihembuskan. Sepertinya, kejujuran dan prestasi dalam memajukan daerah adalah dosa besar bagi mereka yang merasa iri atau terancam.

Pekanbaru mungkin masih akan terus menerima kirimanasap karena kebakaran hutan. Tapi setidaknya kita tahu, asap di ruang sidang dan di kanal berita itu tidak muncul sendiri. Ada yang sedang memegang korek apinya, sambil berharap kita semua sesak napas dan berhenti berpikir jernih.**

#gubernur riau #Riau #Abdul Wahid #Keadilan Untuk Wahid #Menghirup kabut Asap Keadilan