Tapung Hilir - Tragedi kematian massal ikan di Sungai Tapung, Kabupaten Kampar, bukan sekadar peristiwa lingkungan. Di balik lebih dari 3 ton ikan yang mati, ada kehidupan warga yang ikut runtuh perlahan. Di Desa Sekijang, Kecamatan Tapung Hilir, suasana berubah drastis. Keramba yang biasanya penuh ikan kini kosong. Air sungai yang dulu menjadi sumber penghidupan, kini justru membawa bau busuk bangkai. Bagi para nelayan dan pemilik keramba, ini bukan hanya kerugian materi ini soal dapur yang terancam tak lagi mengepul.
Di tengah kondisi itu, Ketua DPRD Kampar, Ahmad Taridi, angkat suara. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh berhenti pada keprihatinan semata. Menurutnya, negara harus hadir memastikan keadilan bagi warga yang terdampak.
Pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) disebut telah mengambil sampel air sungai untuk diuji di laboratorium. Sementara itu, pemerintah desa bergerak mendata para korban mulai dari pemilik keramba hingga nelayan yang kehilangan penghasilan.
Namun bagi warga, waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Mereka menunggu bukan hanya hasil uji laboratorium, tetapi juga kepastian: apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa yang harus bertanggung jawab.
Ahmad Taridi menyatakan DPRD akan terus mengawal kasus ini. Ia menegaskan, jika terbukti ada pihak baik perusahaan maupun perorangan yang menyebabkan pencemaran, maka harus ada tindakan tegas sesuai hukum yang berlaku.
Di tengah penantian itu, harapan warga sederhana: sungai kembali bersih, ikan kembali hidup, dan keadilan tidak hanya menjadi janji.
Karena bagi mereka, Sungai Tapung bukan sekadar aliran air melainkan sumber kehidupan yang kini sedang mereka perjuangkan untuk kembali.***MDn
#limbah Cemari sungai Tapung #Ketua DPRD Kampar #Tapung Hilir